Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Cara Menghitung Bunga Pinjaman Bank BRI Dengan Bunga Flat dan Efektif

Banyak yang beranggapan bahwa cara menghitung bunga pinjaman bank BRI adalah hanya dengan mengurangi total pembayaran angsuran dengan jumlah pinjaman yang diterima. Ini tidak sepenuhnya salah karena metode tersebut digunakan pada jenis bunga flat. Apalagi jenis pinjaman bank BRI juga beranega ragam.

Selain bunga flat, ada jenis bunga lain yang sering digunakan untuk metode perhitungan bunga pinjaman bank, yaitu bunga efektif dan bunga anuitas yang terdiri dari bunga tetap dan bunga mengambang (floating). 

Apa perbedaan dari masing-masing bunga tersebut?

Jika diulas lebih mendalam ada banyak faktor yang membedakan masing-masing jenis bunga pinjaman bank. Ada pinjaman yang semakin lama angsurannya semakin sedikit (bunga menurun), ada yang angsurannya selalu tetap, ada yang menggunakan kombinasi antara keduanya, dan ada pula yang besarnya bunga tergantung dari bunga pasar.

Cara Menghitung Bunga Pinjaman Bank BRI

Agar lebih jelas, yuk kita bahas satu-persatu bagaimana cara menghitung bunga pinjaman bank BRI berdasarkan jenis bunganya.

1. Cara Menghitung Bunga Flat

Jenis bunga flat sering ditemui pada kredit tanpa agunan seperti kredit kendaraan bermotor, kredit KUR BRI Mikro, dan beberapa kredit lain yang biasanya menyertakan tabel pinjaman lengkap dengan anguran beserta bunga per bulan.

Cara menghitung bunga flat pada pinjaman bank BRI adalah jumlah pinjaman dikalikan bunga pertahun dibagi 12 bulan.
Jika dirumuskan hasilnya seperti ini :
Bunga  = [Jumlah pinjaman X bunga per tahun (%)]
                                          12 bulan
Contoh ilustrasi :
Pak Agus mengajukan pinjaman di bank BRI dengan rincian sebagai berikut :
  • Pokok Pinjaman : Rp 48.000.000
  • Bunga per tahun : 6%
  • Tenor pinjaman : 24 bulan
  • Bunga flat
Mari kita hitung :
  • Cicilan Pokok =>> Rp 48.000.000 : 24 bulan = Rp 2.000.000
  • Bunga =>> (Rp 48.000.000 x 6%) : 12 bulan = Rp 240.000
  • Angsuran per bulan = >> Rp 2.000.000 + Rp 240.000 = Rp 2.240.000
Maka, besarnya angsuran yang harus dibayarkan oleh pak Agus adalah Rp 2.240.000

Nah, coba kita kalikan 24 bulan

Rp 2.240.000 x 24 bulan = Rp 53.760.000

Jadi, total bunga yang dibayarkan selama 24 bulan adalah = Rp 53.760.000 - Rp  48.000.000 = Rp 5.760.000

Besar angsuran tersebut tiap bulan tidak berubah alias flat.

Keuntungan dan Kekurangan Bunga Flat

Jika pinjaman menggunakan bunga flat tentunya nasabah tidak perlu khawatir dengan jumlah angsuran yang dibayarkan setiap bulan karena nominalnya selalu tetap. Selain itu bunga flat juga memiliki resiko lebih kecil dari jenis bunga lainnya karena terdapat biaya provisi sebesar 1% dan biaya penalti yang tidak terlalu tinggi jika terjadi keterlambatan angsuran. 

Namun, bunga flat juga memiliki kekurangan yaitu jika suku bunga pasar mengalami penurunan, maka bunga yang dibayarkan tetap sama sesuai kesepakatan awal dan tidak terpengaruh oleh naik turunnya suku bunga pasar.

2. Cara Menghitung Bunga Efektif

Sudah disinggung pada pembahasan di atas bahwa yang membedakan bunga flat dengan bunga efektif adalah jumlah angsuran tiap bulannya. Untuk jenis bunga flat jumlah angsuran pokok dan bunga nilainya selalu sama setiap bulannya, namun untuk jenis angsuran efektif bunga yang dibayarkan tiap bulannya terus berkurang hingga pelunasan selesai.

Jadi pada dasarnya bunga efektif dihitung dari saldo pinjaman terakhir setiap bulan. Lebih mudahnya bunga dihitung berdasarkan pinjaman pokok yang belum dibayar, sehingga angsuran bulanan selalu berbeda-beda setiap bulannya.

Bunga efektif ini sering digunakan untuk jenis pinjaman jangka panjang seperti KPR, Apartemen atau Kredit Investasi.

Rumus Bunga efektif 

Jika dirumuskan bunga efektif dapat dihitung dengan cara berikut :
Angsuran pokok per bulan = Pokok pembayaran : jangka waktu pembayaran : lamanya pembayaran (bulan
Bunga per bulan = Saldo pinjaman terakhir x suku bunga per tahun(%)
                                                                  12 bulan   
Ilustrasi :
Pak Agus mengajukan pinjaman di Bank BRI dengan rincian sebagai berikut :
  • Pokok Pinjaman : Rp 48.000.000
  • Bunga per tahun : 6%
  • Tenor pinjaman : 24 bulan
  • Bunga efektif
Perhitungannya adalah sebagai berikut :
  • Angsuran bulan I
- Angsuran pokok per bulan = Rp 48.000.000 : 24 bulan = Rp 2.000.000
- Bunga bulan kedua = Rp 48.000.000 x 6%  = Rp 240.000
                                                12 bulan
- Total angsuran bulan pertama = Rp 2.000.000 + Rp 240.000 = Rp 2.240.000

Setelah angsuran pertama dibayarkan, jadi sisa angsuran pokoknya tersisa Rp 48.0000.000 - Rp 2.000.000 = Rp 46.000.000

Sisa angsuran tersebut digunakan sebagai dasar perhitungan angsuran kedua.
  • Angsuran bulan II
- Sisa angsuran pokok = Rp 46.000.000
- Bunga bulan kedua = Rp 46.000.000 x 6%  = Rp 230.000
                                                12 bulan
- Total angsuran bulan kedua = Rp 2.000.000 + Rp 230.000 = Rp 2.230.000

Setelah angsuran kedua dibayarkan, jadi sisa angsuran pokoknya tersisa Rp 46.0000.000 - Rp 2.000.000 = Rp 44.000.000
  •   Angsuran bulan III
- Sisa angsuran pokok = Rp 44.000.000
- Bunga bulan pertama = Rp 44.000.000 x 6%  = Rp 220.000

                                                12 bulan
- Total angsuran bulan ketiga = Rp 2.000.000 + Rp 220.000 = Rp 2.220.000

Dan untuk perhitungan bunga efektif bulan berikutnya sama seperti cara di atas.

Kelebihan dan Kekurangan Bunga Efektif

Setelah mencoba menghitung secara manual ternyata kelebihan bunga efektif terletak pada angsuran bunga tiap bulan yang lebih rendah daripada bunga flat. Hal ini karena sisa saldo pinjaman pada bulan sebelumnya dijadikan sebagai acuan dalam menghitung angsuran bunga.

Namun, bagi sebagian orang perhitungan seperti ini terasa rumit dan membuat bingung nasabah karena uang angsuran yang dibayarkan tiap bulan selalu berbeda-beda.

Sudah paham kan perbedaan bunga antara bunga flat dengan bunga efektif?

Penutup

Ada 2 cara perhitungan bunga pinjaman bank BRI yang sering digunakan, yaitu bunga flat dan bunga efektif. Namun, kebanyakan orang lebih suka menggunakan sistem bunga flat karena cicilannya selalu tetap setiap bulannya. Jenis bunga ini sering dijumpai pada jenis kredit kendaraan bermotor, KUR BRI, dan kredit tanpa agunan lainnya.

Akan  tetapi selain 2 cara di atas masih ada satu lagi metode perhitungan bunga pinjaman bank, yaitu bunga anuitas. Bunga anuitas adalah perpaduan antara perhitungan bunga flat dan bunga efektif, dimana bunga pinjaman dihitung berdasarkan sisa saldo pinjaman yang belum dibayar pada bulan sebelumnya dengan angsuran per bulan tetap.

Bunga anuitas juga memiliki 2 jenis perhitungan, yaitu bunga tetap (fixed) dan bunga mengambang (floating). Dua jenis bunga ini ditentukan berdasarkan naik turunnya suku bunga pasar, dimana bunga tetap tidak terpengaruh oleh suku bunga pasar, sedangkan bunga floating selalu mengikuti perubahan bunga pasar.

Nah, untuk perhitungan lengkap mengenai bunga anuitas akan saya bahas di postingan berikutnya.

Demikianlah informasi mengenai cara menghitung bunga pinjaman bank BRI dengan bunga flat dan bunga efektif, semoga memberikan manfaat bagi siapa saja yang sedang mencari informasi seputar rumus bunga bank BRI. Terima kasih.

Posting Komentar untuk "Cara Menghitung Bunga Pinjaman Bank BRI Dengan Bunga Flat dan Efektif"